ISLAM itu indah-----ISLAM itu sempurna dan ISLAM itu rahmatan lil 'alamin-----JANGAN Hanya menilai ISLAM dari pengikut / umatnya...!-----tapi Nilai lah ISLAM dari ajarannya...!-----Pelajarilah...!-----Jika Tidak Tahu Bertanyalah Pada Ahlinya-----maka anda akan mengetahui betapa menakjubkanya Islam bagi kehidupan manusia

(Ibnul Qoyyim rahimahullah[Ad-Daa' wa ad-Dawaa' 94])

“”

IMAM SYAFI'I MENUTURKAN :

Siapa yang tulus menjalin persaudaraan dengan sahabatnya maka ia akan menerima kesalahan-kesalahannya,, mengisi kekuranagnnya dan memaafkan ketregelincirannya".

RASULULLAH Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia". (HR. Muslim)

RASULULLAH shlallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Seorang Muslim Adalah Bersaudara, Janganlah Mendzolimi, Merendahkan Dan Janganlah Mengejeknya. (HR. Muslim)

RASULULLAH shlallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya baik di dunia maupun di akherat". (HR. Muslim)

Imam Syafi'i pernah berkata :

"Aku berangan-angan agar orang-orang mempelajari ilmuku ini dan mereka tidak menisbahkan sedikitpun ilmuku kepadaku selamanya, lalu akupun diberi ganjaran karenanya dan mereka tidak memujiku" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 10/276)

Ibnul Qayyim (Al Fawaid 1/147)

el kanzu

Rabu, 15 April 2026

Pengaruh ibadah dalam kehidupan seorang Muslim #01

Muqoddimah 

أَثَرُ الْعِبَادَاتِ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ
Pengaruh ibadah dalam kehidupan seorang Muslim.
مُحَاضَرَةٌ أَلْقَاهَا عَبْرَ الْهَاتِفِ عَبْدُ الْمُحْسِنِ بْنُ حَمْدٍ الْعَبَّادِ الْبَدْرِ فِي جَمْعِيَّةٍ إِسْلَامِيَّةٍ فِي أَمْرِيكَا
 “Sebuah ceramah yang disampaikan melalui telepon oleh syeikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr di sebuah lembaga/organisasi Islam di Amerika.”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، 
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. 

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ، فَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، 
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama. Maka beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menasihati umat.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَلَكَ سَبِيلَهُ وَاهْتَدَىٰ بِهَدْيِهِ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang menempuh jalan beliau serta mendapat petunjuk dengan petunjuknya hingga hari pembalasan.
أَمَّا بَعْدُ:
Amma ba’du:

فَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ الْمُسْلِمُونَ الْمُسْتَمِعُونَ فِي أَمْرِيكَا، وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَأَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لِي وَلَكُمُ الْعَوْنَ وَالتَّسْدِيدَ، وَأَنْ يُوَفِّقَنَا جَمِيعًا لِمَا يُرْضِيهِ.
Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepada kalian wahai saudara-saudaraku kaum muslimin para pendengar di Amerika. Aku memohon kepada Allah عز وجل untukku dan kalian pertolongan dan ketepatan, serta agar Dia memberi kita semua taufik kepada apa yang diridhai-Nya.

وَحَدِيثِي مَعَكُمْ فِي الْمَوْضُوعِ الَّذِي رَغِبْتُمْ الْحَدِيثَ فِيهِ، وَهُوَ: أَثَرُ الْعِبَادَاتِ فِي حَيَاةِ الْمُسْلِمِ، فَأَقُولُ:
Pembicaraanku bersama kalian adalah tentang tema yang kalian inginkan untuk dibahas, yaitu: pengaruh ibadah dalam kehidupan seorang muslim. Maka aku katakan:

الْعِبَادَةُ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَهَذَا هُوَ أَحْسَنُ مَا قِيلَ فِي تَعْرِيفِ الْعِبَادَةِ.
Ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi. Ini adalah definisi terbaik yang dikatakan tentang ibadah.

وَلِلْعِبَادَةِ أَهَمِّيَّةٌ عُظْمَىٰ؛ وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ الْخَلْقَ، وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ لِلْأَمْرِ بِعِبَادَتِهِ وَالنَّهْيِ عَنْ عِبَادَةِ غَيْرِهِ، فَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ:
Ibadah memiliki kedudukan yang sangat agung. Hal itu karena Allah عز وجل menciptakan makhluk, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab untuk memerintahkan agar hanya beribadah kepada-Nya dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt Ayat: 56)

أَيْ: خَلَقَهُمُ اللَّهُ لِأَمْرِهِمْ بِعِبَادَتِهِ وَنَهْيِهِمْ عَنْ مَعْصِيَتِهِ.
Artinya: Allah menciptakan mereka untuk memerintahkan mereka beribadah kepada-Nya dan melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya.

وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ:
Dan Allah سبحانه berfirman:

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. An-Naḥl Ayat: 36)

وَقَالَ سُبْحَانَهُ:
Dan Allah سبحانه berfirman:

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾
“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiyā’ Ayat: 25)

وَالْعِبَادَةُ أَنْوَاعٌ كَثِيرَةٌ؛ مِنْهَا: الْخَوْفُ، وَالرَّجَاءُ، وَالتَّوَكُّلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالرَّهْبَةُ، وَالْإِنَابَةُ، وَالِاسْتِعَانَةُ، وَالِاسْتِغَاثَةُ، وَالذَّبْحُ، وَالنَّذْرُ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ.
Ibadah memiliki banyak jenis, di antaranya: rasa takut, harap, tawakal, keinginan (harap kepada Allah), rasa takut (terhadap azab-Nya), kembali (bertaubat), meminta pertolongan, meminta perlindungan, menyembelih, bernazar, dan selain itu dari berbagai jenis ibadah.

وَمِنَ الْعِبَادَاتِ: أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ الَّتِي اشْتَمَلَ عَلَيْهَا حَدِيثُ جِبْرِيلَ الْمَشْهُورُ.
Di antara ibadah itu adalah rukun Islam, yaitu yang tercakup dalam hadits Jibril yang masyhur.

وَجَاءَ فِي حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
Dan disebutkan dalam hadits Abdullah bin Umar رضي الله عنهما bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ» (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ).
“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


ثُمَّ إِنَّ الْعِبَادَةَ لَا بُدَّ فِي قَبُولِهَا مِنْ شَرْطَيْنِ:
Kemudian, sesungguhnya ibadah itu tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat:

أَحَدُهُمَا: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ.
Pertama: mengikhlaskan amal hanya untuk Allah.

وَالثَّانِي: تَجْرِيدُ الْمُتَابَعَةِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Kedua: mengikuti Rasulullah ﷺ secara murni.

فَلَا بُدَّ مِنْ تَجْرِيدِ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ، فَلَا يُشْرَكُ مَعَهُ غَيْرُهُ، وَلَا يُصْرَفُ شَيْءٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ لِغَيْرِهِ، وَلَا بُدَّ مِنْ تَجْرِيدِ الْمُتَابَعَةِ لِلرَّسُولِ، فَلَا يُعْبَدُ اللَّهُ إِلَّا وَفْقًا لِمَا جَاءَ بِهِ.
Maka harus memurnikan keikhlasan hanya kepada Allah semata, tidak boleh menyekutukan-Nya dengan selain-Nya, dan tidak boleh memalingkan satu pun jenis ibadah kepada selain Allah سبحانه وتعالى. Dan harus memurnikan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasul, sehingga Allah tidak disembah kecuali sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasul yang mulia ﷺ.

وَالْحَاصِلُ: أَنَّ الْعَمَلَ لَا يُقْبَلُ إِلَّا إِذَا كَانَ خَالِصًا لِلَّهِ، مُوَافِقًا لِسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Kesimpulannya: suatu amal tidak akan diterima kecuali jika ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya ﷺ.

فَإِذَا اخْتَلَّ أَحَدُ هَذَيْنِ الشَّرْطَيْنِ رُدَّ الْعَمَلُ، 
Jika salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi yakni hilangnya keikhlasan, atau hilangnya mengikuti sunnah, atau keduanya sekaligus maka amal tersebut tertolak dan tidak diterima di sisi Allah عز وجل.

قَالَ تَعَالَىٰ:
Allah تعالى berfirman:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا﴾
“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.”
(QS. Al-Furqān Ayat: 23)

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)
“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ:
Dalam riwayat Muslim:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka ia tertolak.”


وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ:
Rasulullah ﷺ bersabda:

«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».
رواه أبو داود (4607)، والترمذي (2676) من حديث العرباض بن سارية، وقال الترمذي: «حديث حسن صحيح».
“Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafā’ yang mendapat petunjuk lagi lurus. Peganglah kuat-kuat dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari sahabat Al-‘Irbadh bin Sariyah, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.”

وَقَدْ بَيَّنَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي حَدِيثِ الثَّلَاثِ وَالسَّبْعِينَ فِرْقَةً، الَّذِينَ يَدْخُلُ مِنْهُمُ النَّارَ اثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً، وَفِرْقَةٌ وَاحِدَةٌ تَنْجُو، أَنَّ هَذِهِ الْفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ هُمُ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَصْحَابُهُ الْكِرَامُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ.
Nabi ﷺ juga telah menjelaskan dalam hadits tentang 73 golongan, bahwa 72 golongan akan masuk neraka dan hanya satu golongan yang selamat. Beliau menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang berada di atas apa yang beliau dan para sahabatnya berada di atasnya.

وَقَالَ الْإِمَامُ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ:
«لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا».
Imam Malik bin Anas رحمه الله berkata:
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik generasi awalnya.”

وَقَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ:
«مَنْ ابْتَدَعَ فِي الْإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً، فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ؛ لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا فَلَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا».
(الاعتصام للشاطبي 1/28)
Beliau juga berkata:
“Barang siapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid‘ah yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah.
Karena Allah berfirman: 
‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian’. (QS. Al-Mā’idah Ayat: 3)

Maka apa yang pada hari itu bukan bagian dari agama, tidak akan menjadi agama pada hari ini.” (Al itisham milik Asy syatibi 1/28)

وَلَا يَكْفِي أَنْ يَقُولَ الْإِنْسَانُ: أَنَا أَعْمَلُ بِهَذَا الْعَمَلِ وَإِنْ لَمْ يَأْتِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ؛ لِأَنَّ قَصْدِي طَيِّبٌ وَقَصْدِي حَسَنٌ.
Tidak cukup seseorang mengatakan: “Saya melakukan amalan ini meskipun tidak datang dari Nabi ﷺ, karena niat saya baik.”

وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ الْكِرَامِ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيدِ قَالَ لَهُ:
Dalilnya, Nabi ﷺ ketika diberitahu bahwa ada seorang sahabat menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat ‘Id, beliau bersabda:
«شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ»
“Kambingmu adalah kambing daging (biasa),”

أَيْ: لَيْسَتْ أُضْحِيَّةً؛ لِأَنَّهَا لَمْ تَقَعْ طِبْقًا لِلسُّنَّةِ. فَإِنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَبْدَأَ ذَبْحُ الْأَضَاحِي بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ، أَمَّا الذَّبْحُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يَكُونُ فِي غَيْرِ وَقْتِهِ فَلَا يُعْتَدُّ بِهِ.
والحديث أخرجه البخاري (5556)، ومسلم (1961).
yakni bukan kurban, karena tidak sesuai dengan sunnah. Sebab sunnahnya adalah penyembelihan dilakukan setelah shalat ‘Id. Adapun menyembelih sebelum shalat, maka itu dilakukan di luar waktunya dan tidak dianggap sah.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

وَقَالَ الْحَافِظُ فِي «الْفَتْحِ(10/17):» :
«قال الشيخ أبو محمد بن أبي جمرة: وَفِيهِ أَنَّ الْعَمَلَ وَإِنْ وَافَقَ نِيَّةً حَسَنَةً لَمْ يَصِحَّ إِلَّا إِذَا وَقَعَ عَلَى وَفْقِ الشَّرْعِ».
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: syeikh abu Muhammad bin Abi jamrah berkata:
“Dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa suatu amalan, meskipun sesuai dengan niat yang baik, tidak sah kecuali jika dilakukan sesuai dengan syariat.”

وَمِمَّا يُوَضِّحُ ذَلِكَ أَيْضًا: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ إِلَى أُنَاسٍ قَدْ تَحَلَّقُوا فِي الْمَسْجِدِ، وَمَعَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ حَصًى، وَفِيهِمْ رَجُلٌ يَقُولُ: سَبِّحُوا مِائَةً، هَلِّلُوا مِائَةً، كَبِّرُوا مِائَةً، فَيَعُدُّونَ بِالْحَصَى.
Yang memperjelas hal ini juga adalah kisah Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه. Beliau datang kepada sekelompok orang yang duduk melingkar di masjid, masing-masing memegang kerikil. Di antara mereka ada yang berkata: “Bertasbihlah seratus kali, bertahlillah seratus kali, bertakbirlah seratus kali,” lalu mereka menghitung dengan kerikil itu.

فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ:
«مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟»
Maka Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berdiri di hadapan mereka lalu berkata:
“Apa yang sedang kalian lakukan ini?”

قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ.
Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdurrahman! Ini adalah batu-batu kecil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ. وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ! مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ ﷺ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ؟!»
Beliau berkata:
“Hitunglah dosa-dosa kalian, dan aku menjamin tidak akan ada satu pun kebaikan kalian yang hilang. Celaka kalian wahai umat Muhammad! Betapa cepatnya kebinasaan kalian! Ini para sahabat Nabi kalian ﷺ masih banyak, pakaian beliau belum usang, dan bejana beliau belum pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian berada di atas suatu ajaran yang lebih mendapat petunjuk daripada ajaran Muhammad ﷺ, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan?!”

قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ! مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ.
Mereka berkata: “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman! Kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”

قَالَ:
«وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ».
رَوَاهُ الدَّارِمِيُّ فِي سُنَنِهِ (١/٦٨–٦٩)، وَذَكَرَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيحَةِ (٢٠٠٥).
Beliau berkata:
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.”
Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya (1/68–69), dan disebutkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2005).

26 Syawal 1447 H | 15 April 2026 M

🖊️©mha

Recent Post