ISLAM itu indah-----ISLAM itu sempurna dan ISLAM itu rahmatan lil 'alamin-----JANGAN Hanya menilai ISLAM dari pengikut / umatnya...!-----tapi Nilai lah ISLAM dari ajarannya...!-----Pelajarilah...!-----Jika Tidak Tahu Bertanyalah Pada Ahlinya-----maka anda akan mengetahui betapa menakjubkanya Islam bagi kehidupan manusia

(Ibnul Qoyyim rahimahullah[Ad-Daa' wa ad-Dawaa' 94])

“”

IMAM SYAFI'I MENUTURKAN :

Siapa yang tulus menjalin persaudaraan dengan sahabatnya maka ia akan menerima kesalahan-kesalahannya,, mengisi kekuranagnnya dan memaafkan ketregelincirannya".

RASULULLAH Shalallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia". (HR. Muslim)

RASULULLAH shlallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Seorang Muslim Adalah Bersaudara, Janganlah Mendzolimi, Merendahkan Dan Janganlah Mengejeknya. (HR. Muslim)

RASULULLAH shlallahu 'alaihi wasalam bersabda :

"Barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya baik di dunia maupun di akherat". (HR. Muslim)

Imam Syafi'i pernah berkata :

"Aku berangan-angan agar orang-orang mempelajari ilmuku ini dan mereka tidak menisbahkan sedikitpun ilmuku kepadaku selamanya, lalu akupun diberi ganjaran karenanya dan mereka tidak memujiku" (Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 10/276)

Ibnul Qayyim (Al Fawaid 1/147)

el kanzu

Senin, 12 Desember 2016

Jangan Tinggalkan Politik

*Mari berpolitik*

-------

Syaikh Albany rohimahulloh berkata,

إن من السياسة ترك السياسة

"Sesungguhnya diantara bentuk politik (yang syar'i) adalah dengan meninggalkan politik (yang tidak syar'i)."

***

As Siyaasah (politik) secara bahasa sebenarnya berarti pengurusan suatu perkara hingga menjadi baik.
[Lisaanul Arab VI /429]

Sedangkan prakteknya adalah dengan melakukan
*TASHFIYYAH* (pembersihan) agama dari kotoran kotoran kebid'ahan dan kesyirikan, agar kembali murni seperti yang diajarkan oleh Rasulullah beserta para Sahabat nya

(baca : Manhaj Salaf).

Dan juga dengan melakukan
*TARBIYAH* (pembinaan, pembimbingan, dan pengembangan) atas dasar tahapan tahapan tashfiyyah yang tersebar di masyarakat.

Atas dasar tashfiyyah dan tarbiyah inilah as Siyaasah (politik) syar'i dibangun.

***

Dari uraian di atas, maka kita faham bahwa politik syar'i itu bisa dibangun dan dilakukan dengan tanpa harus memaksa diri masuk ke dalam politik praktis Demokrasi yang asalnya kufur, dan hanya bertendensi ke arah perebutan dan pelanggengan kekuasaan.

Para ulama, para ustadz, para Da'i yang setiap hari sibuk menyebarkan ilmu, membantah syubhat, membina umat, dan memerangi kebid'ahan dan kesyirikan itu sebenarnya telah melakukan politik Siyaasah dalam artian yang sesuai Syar'i.

Termasuk kesalahan pemahaman, bahwa Siyaasah (politik) itu harus mempersyaratkan memiliki kekuasaan pemerintahan.

Memiliki kekuasaan pemerintahan itu hanyalah Afdholiyyah saja, bukan syarat.

*Kenapa?*

Karena tidak semua Nabi dan Rasul itu diberikan anugerah berupa kekuasaan seperti halnya rasulullah.

*Namun apakah itu berarti para nabi dan rasul itu menjadi tidak melakukan politik Siyaasah yang sesuai syariat?*

Al jawab mereka melakukan politik sesuai definisi syariat, yakni dengan membina dan membimbing umatnya dan membersihkan kotoran kotoran Aqidah serta kesyirikan yang ada.

Bahkan Rasulullah sendiri pada waktu fase Mekkah sebenarnya telah _*diberikan tawaran politik kekuasaan yang tidak sesuai syariat,*_ maka Rasulullah pun menolaknya.

Apakah ini Rasulullah menolak politik?

*Al jawab*, tidak. Apa yang Rasulullah lakukan hanyalah meninggalkan politik yang tidak syar'i, dan tetap berpegang teguh dengan politik yang syar'i, dengan tetap membina dan membimbing ummat di atas jalan Tashfiyyah dan Tabiyyah yang dibangun di atas manhaj yang Shohih.

Oleh karena itu, sekali lagi, termasuk kesalahan pemahaman dan penyempitan makna bahwa Siyaasah (politik) itu harus mempersyaratkan memiliki kekuasaan pemerintahan. Memiliki kekuasaan pemerintahan itu hanyalah Afdholiyyah saja, bukan syarat.

***

Lalu bagaimana dengan pemerintahan dan pemegang kekuasaan, jika ditinjau dari kacamata politik siyasah yang sesuai syariat ini?

Tentu saja mereka juga merupakan obyek Tashfiyyah dan Tabiyyah dari politik Siyaasah yang syar'i ini.
Mereka diberikan nasehat dan dibimbing agar mempergunakan kekuasaan nya dengan cara yang benar. Dihilangkan syubhat syubhat sekulerisme nya, pluralisme nya, dan hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat.
Bisa juga dengan nasehat dengan cara memperlihatkan bukti kondisi umat yang semakin hari semakin baik, dengan tashfiyyah dan tarbiyah yang sesuai syariat itu. Maka pemerintah umumnya akan mengikuti kecenderungan rakyat, dan akan mulai membenahi diri setelahnya.

Maka dari itu pendekatan top-down dilakukan, pendekatan bottom-up juga dilakukan.
Inilah makna politik Siyaasah yang sesuai syariat dan sunnah yang sebenarnya.

***

Bagaimana jika mengajak umat berbondong bondong untuk masuk ke demokrasi dan melakukan "perbaikan secara paksa" dari atas ke bawah?

Al jawab, kondisi umat sebenarnya *tidak siap* akan hal itu. Dan *yang kedua*, ini sebenarnya hanyalah metode instant yang bersifat temporal yang kurang sesuai dengan jiwa politik Siyaasah syar'iyyah yang sebenarnya, dengan metode tashfiyyah dan tarbiyah.

Dan kebijaksanaan akan hal ini, dari kacamata syariah, hanya merupakan kebijaksanaan temporer yang sesuai keperluan insidental yang keluar dari pakem untuk sementara waktu. Bukan untuk dijadikan landasan pokok pemahaman.

Sekali lagi, Bukan untuk dijadikan landasan pokok pemahaman.

Bahkan jika hal itu dilakukan dengan cara meninggalkan Tashfiyyah dan Tabiyyah. *Mengabaikan* pembinaan Aqidah dan manhaj Salaf yang Shohih. Meridhoi atau membiarkan bid'ah dan kesyirikan tetap berkembang di tengah masyarakat, *dengan alasan* takut kehilangan suara dan pengaruh kekuasaan.

Maka inilah yang dikatakan sebagai penyimpangan manhaj, yang *menyimpang* dari manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Untuk orang orang yang menyimpang seperti ini, maka berlaku nasehat Syaikh Albany tersebut.

إن من السياسة ترك السياسة
"Sesungguhnya diantara bentuk politik (yang syar'i) adalah dengan meninggalkan politik (yang tidak syar'i)."

Sumber : al akh Kautsar Amru

Senin, 05 Desember 2016

Ya Allah Simpanlah Amal Kami

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 03 Rabi'ul Awwal 1438 H / 03 Desember 2016 M
📔 Materi Tematik | Cukuplah Allāh Sebagai Saksi
----------------------------------

*CUKUPLAH ALLĀH SEBAGAI SAKSI*

Saat itu malam telah larut. Para penduduk Madīnah telah tertidur dengan lelapnya. Tak ada yang mengetahui, seorang laki-laki memanggul bahan makanan, berkeliling dari rumah ke rumah para fuqara’ kota Madīnah.
Memanggul sendiri bahan makanan di pundaknya.

Ketika pagi tiba, penduduk Madīnah mendapati bahan makanan telah tersedia di depan pintu rumahnya, tanpa tahu siapa yang membawanya untuk mereka.

Hal itu berlangsung selama 10 tahun.

Akhirnya, ketika Husein bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi thalib (Zainal Abidin) meninggal, penduduk Madīnah kehilangan hal tersebut, dan mereka baru mengetahui, siapakah yang telah mengantarkan bahan makanan kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi selama 10 tahun. Karena ketika mereka memandikan jenazahnya, terlihatlah bekas hitam dan luka bekas panggulan di punggungnya.

◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙ ◙

Mungkin kita telah sering mendengar kisah di atas, atau kisah-kisah semisalnya.

Kisah-kisah tentang gambaran keikhlāsan yang tulus, tanpa mau tercampur kesyirikan sekecil apa pun.

Keikhāsan dari orang-orang yang sangat  mengenal kedudukan Rabb-Nya.
Menyadari bahwa hanya Dialah pemilik pahala dan surga. Dan menyadari bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh hamba, siapa pun ia, sejatinya tak berharga, sehingga mereka tidak membutuhkan manusia sebagai saksi amal-amal shālih mereka.

Mungkin kita telah sering membaca, bahwa salah satu cara menjaga keikhlāsan amal adalah dengan menyembunyikannya. Karena keikhlāsan ternyata tidak hanya diperlukan sebelum dan saat beramal saja, tetapi juga setelahnya.

Basyr bin Al Harits berkata:

"Janganlah engkau beramal agar engkau disebut-sebut, sembunyikanlah kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukanmu."

Mungkin kita telah mengetahui hal itu.

Akan tetapi, syaithān memang tak pernah putus asa untuk merusak pahala amalan kita, agar kita tidak sadar bahwa amal shālih yang kita lakukan akhirnya hanya menjadi debu yang beterbangan, sia-sia tanpa berbuah pahala, bahkan sebaliknya berbuah dosa dan siksa.

Tidakkah kita ingat hadīts Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang tiga orang yang pertama disiksa di neraka?

√ Mereka adalah mujahid,
√ Orang kaya yang gemar berinfaq,
√ Penghafal Al Qur'ān

Tetapi mereka lakukan semua itu hanya karena mencari sanjungan manusia.

Mungkin kita beralasan bukan menginginkan pujian, tapi kita ingin menjadi teladan, agar menginspirasi banyak orang. Sehingga kita menampakkan kebaikan kita.

Namun, tidak sadarkah kita, bahwa kita sedang membuka celah bagi syaithān untuk menyeret kita ke lembah ujub dan riyā'?

→Banggakah kita bila kita mendapatkan komentar positif atau acungan jempol dari banyak orang?

→Kecewakah kita bila orang-orang seakan tak peduli dengan amal kita?

Bila iya, hati-hatilah, mungkin kita telah masuk perangkap syaithān.

Bila kita mau jujur, telah banyak teladan dari pendahulu-pendahulu kita yang lebih hebat dari kita, teladan-teladan yang lebih menginspirasi daripada amal kita.

Karena itu, biarlah manusia membuka lembaran-lembaran sejarah yang telah terukir dengan tinta emas itu, karena pelakunya telah tiada dan selamat dari ujub dan riyā'.

Sebaliknya tutuplah rapat amal-amal kita, karena tak ada yang menjamin kita selamat dari ujub dan riyā'.

Mungkin kita beralasan, kita beramal bukan mencari sanjungan, tapi sekedar pengakuan.

Pengakuan dari orang-orang bahwa kita adalah orang yang pintar nan hebat. Tak afdhal rasanya bila orang-orang tak mengetahui amal baik kita.

Subhānallāh ! Betapa banyak orang yang melakukan amalan yang lebih hebat daripada kita, tetapi mereka selalu takut amalan mereka tidak diterima.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengabarkan dalam Al Qur'ān:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

_"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka."_

(QS. Al Mu'minun: 60)

Sa'id bin Jubair berkata:

"Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya."

Ditanyakan kepadanya,"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"

Beliau menjawab:

"Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allāh akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allāh dan Allāh pun mengampuni dosanya (karena rasa takutnya itu), sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allāh dalam keadaan demikian, maka Allāh pun memasukkannya ke dalam neraka."

Memang, menjadi orang yang ikhlās sangatlah berat.

Bahkan, ulama sekaliber  Sufyan Ats Tsauri pun berkata:

"Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah."

Namun, dengan menyembunyikan amal akan membantu kita menjaga keikhlāsan.

Memang, menyembunyikan amal juga tak semudah mengatakan atau menuliskannya, tetapi membutuhkan azzam yang kuat dan pembiasaan.

Selalu akan ada bisikan syaithān untuk mengekspos kebaikan kita dihadapan orang lain.

Maka, setiap kita melakukan amal kebaikan, tanamkan dalam hati, bahwa Allāh sajalah pemilik kemuliaan dan balasan.

Dan bila bisikan syaithān mulai menghampiri, katakan dengan penuh keyakinan di dalam hati, "Cukuplah Allāh sebagai saksi!"


Ummu Sholih
@Madinatul Qur'an
____________________________

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah...
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q
------------------------------------------

Kamis, 10 November 2016

Meluangkan Waktu Mencari Ilmu

📖Bukti Sekelas UMAR BIN KHOTOB rodhiallahu 'anhu Aja Meluangkan Waktu Untuk Mencari Ilmu Agama...

Bagaimana dengan kita ?

Umar rodhiallahu 'anhu , Beliau dijamin masuk surga
Umar rodhiallahu 'anhu adalah Khalifah ke-2
Kita mengaku lebih pandai dari beliau ?

🔎🔍Buka Kitab Fathul Bari no 89. ❕❗

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَقَالَ ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي ثَوْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ عُمَرَ قَالَ
كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنْ الْأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي الْمَدِينَةِ
وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا
فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ الْوَحْيِ وَغَيْرِهِ وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ  ... )

Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri. Menurut jalur yang lainnya; Abu Abdullah berkata; dan berkata Ibnu Wahb; telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dari 'Ubaidullah bin Abdullah bin Abu Tsaur dari Abdullah bin 'Abbas dari Umar berkata:

Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah,

kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sehari aku yang menemui Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan hari lain dia yang menemui Beliau shallallahu 'alaihi wasallam,

Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama... )

📚(HR. Bukhari no. 87 / Fathul Bari no. 89)

Semoga Allah ta'ala Memudahkan urusan-urusan kita sehingga kita bisa meluangkan waktu untuk mencari ilmu... amin ya robbal 'alamin

el kanzu ✏

Madiun,15.45 WIB.
10 Shafar 1438 H /10 November 2016 M

Senin, 07 November 2016

Tanda Takut

Al-Fawaid:
#Tanda Takut#

Abu Laits As Samarqondi berkata:
"Tanda takut kepada Allah itu akan tampak pada tujuh perkara:
1. Lisannya. Ia tak berani berdusta, berghibah, mengadu domba. ia selalu berdzikir kepada Allah.

2. Hatinya. Rasa takut mengeluarkan kedengkian dan permusuhan dari hati. Dan penyakit penyakit hati lainnya.

3. Matanya. Ia tak mau melihat yang diharamkan oleh Allah.

4. Perutnya. Ia tak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang haram.

5. Tangannya. Ia tak menggunakannya untuk yang haram tapi ia gunakan untuk ketaatan.

6. Kakinya. Ia tak melangkahkan kakinya ke tempat maksiat. Namun ia langkahkan untuk ketaatan.

7. Ketaatannya. Ia jadikan ketaatannya benar benar ikhlas mengharapkan wajahnya semata.

(Tanbihul Ghofilin hal. 256)

Sifat Fitnah

Al-Fawaid:
#Sifat Fitnah#

1. Ia terlihat indah di awalnya.

Sufyan bin Uyainah berkata dari Kholaf bin Hausyab: Dahulu mereka suka membawakan sya'ir ini di saat terjadi fitnah:
الحرب أول ما تكون فتية
perang (fitnah) itu di awalnya bagaikan gadis
تسعى بزينتها لكل جهول
yang memperlihatkan kecantikannya bagi orang yang bodoh
حتى إذا استعلت وشب ضرامها
Sehingga ketika fitnah telah menyala dan menjadi besar
ولت عجوزا غير ذات حليل
Ia berubah menjadi janda yang tua
شمطاء ينكر لونها وتغيرت
Rambutnya memutih dan warna kulitnya berubah
مكروهة للشم والتقبيل
baunya tak enak dan tidak enak dicium.
(Shahih Bukhari)

Fitnah di awalnya terlihat indah dan cantik, menggunakan nama nama yang indah atas nama amar ma'ruf nahi munkar atau lainnya. Sehingga orang orang yang tak berilmu tertipu dengannya.

2. Fitnah menghilangkan akal lelaki yang cerdas.

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku mengkhawatirkan fitnah atas kalian bagaikan asap. hati seseorang mati padanya sebagaimana mati badannya. (Kitab Fitan karya Nu'aim bin Hammad no 117)

Karena fitnah itu diberikan slogan slogan yang mentereng sehingga akalpun hilang dan yang berbicara adalah perasaan dan emosi.

3. Ia amat cepat menjadi besar sehingga sulit dipadamkan.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Fitnah apabila telah menyala membuat lemah orang orang yang berakal untuk mencegah orang orang yang lemah akalnya. (Minhajussunnah 4/343)

Maka berhati hatilah saudaraku dari fitnah..
jangan dahulukan perasaan dan emosi..
tanyalah para ulama kibaar sebelum bersikap..
Lihatlah dengan hati yang bening dan ilmu yang dalam..

Sifat Fitnah

Al-Fawaid:
#Sifat Fitnah#

1. Ia terlihat indah di awalnya.

Sufyan bin Uyainah berkata dari Kholaf bin Hausyab: Dahulu mereka suka membawakan sya'ir ini di saat terjadi fitnah:
الحرب أول ما تكون فتية
perang (fitnah) itu di awalnya bagaikan gadis
تسعى بزينتها لكل جهول
yang memperlihatkan kecantikannya bagi orang yang bodoh
حتى إذا استعلت وشب ضرامها
Sehingga ketika fitnah telah menyala dan menjadi besar
ولت عجوزا غير ذات حليل
Ia berubah menjadi janda yang tua
شمطاء ينكر لونها وتغيرت
Rambutnya memutih dan warna kulitnya berubah
مكروهة للشم والتقبيل
baunya tak enak dan tidak enak dicium.
(Shahih Bukhari)

Fitnah di awalnya terlihat indah dan cantik, menggunakan nama nama yang indah atas nama amar ma'ruf nahi munkar atau lainnya. Sehingga orang orang yang tak berilmu tertipu dengannya.

2. Fitnah menghilangkan akal lelaki yang cerdas.

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku mengkhawatirkan fitnah atas kalian bagaikan asap. hati seseorang mati padanya sebagaimana mati badannya. (Kitab Fitan karya Nu'aim bin Hammad no 117)

Karena fitnah itu diberikan slogan slogan yang mentereng sehingga akalpun hilang dan yang berbicara adalah perasaan dan emosi.

3. Ia amat cepat menjadi besar sehingga sulit dipadamkan.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
Fitnah apabila telah menyala membuat lemah orang orang yang berakal untuk mencegah orang orang yang lemah akalnya. (Minhajussunnah 4/343)

Maka berhati hatilah saudaraku dari fitnah..
jangan dahulukan perasaan dan emosi..
tanyalah para ulama kibaar sebelum bersikap..
Lihatlah dengan hati yang bening dan ilmu yang dalam..

Recent Post