ISLAM itu indah-----ISLAM itu sempurna dan ISLAM itu rahmatan lil 'alamin-----JANGAN Hanya menilai ISLAM dari pengikut / umatnya...!-----tapi Nilai lah ISLAM dari ajarannya...!-----Pelajarilah...!-----Jika Tidak Tahu Bertanyalah Pada Ahlinya-----maka anda akan mengetahui betapa menakjubkanya Islam bagi kehidupan manusia

Rabu, 13 Februari 2013

Lagi Galau . . .?

el-asnawi.blogspot
Galau . . . Galau . . . Galau . . . ? ? ?


الحدلله والصلاة والسلام على محمد وعلى اله و أصحابه أجمعين
Istilah“Galau!!” yang sedang naik daun dan ngetren. Entah karena iklan televisi atau memang sudah terlanjur terkenal. Sehingga kata ini laker dan lamis(laku keras dan laris manis) baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kata ini banyak dipakai dan digunakan, khususnya dikalangan ABG (remaja dan pelajar). Ada istilah SMS Galau, Status Galau, Pesan galau, kata-kata galau dan semisalnya. Intinya, menggambarkan kondisi perasaan atau pikiran yang tidak enak. Perasaan tidak menentu. Rasanya ada yang kurang. Ada yang tidak beres. Tidak jelas apa sebabnya.
1. PENGERTIAN
Kalau diurut-urut arti dari kata GALAU itu sendiri bisa berarti berat otak, bimbang, bingung, cemas, gelisah, hilang akal, kacau, karut, keruh, khawatir, kusut, nanar, pakau, resah, ribut, risau, semak hati, senewen, sesat pusat, terombang-ambing, was-was. http://www.sinonimkata.com)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008) halaman 407, dikatakan “galau” itu berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Jika merujuk ke definisi ini, keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya sedang kacau.
Galau menurut agama dan teman-teman yang hidup di pesantren atau yang rajin mengaji biyasa disebut dengan futur. Dalam kitab Lisaanul ‘Arab karangan Imam Ibnul Mundzir rahimahullah, futur secara bahasa berarti diam setelah giat, dan lemah setelah semangat. Secara istilah, futur berarti meninggalkan atau mengurangi amal keta’atan yang telah biasa dilakukan.
PENJELASAN GALAU
Galau tidak selamanya identik dengan kesedihan yang tak berarti dan bernilai negatif tetapi galau juga ada yang syar’i dan bernilai positif, bahkan bisa membuahkan pahala bagi penderitanya.
 a. Galau yang syar’i dan positif plus bisa membuahkan pahala bisa temen-temen baca dihalaman 8 dari majalah el fata.
Saudaraku para remaja,, pemuda yang semoga senantiasa dirahmati Allah...
"Allah mengumpulkan seluruh manusia dari pertama hingga yang terakhir di atas satu dataran… dan matahari mendekat, maka orang-orangpun dilanda kesedihan dan kesulitan yang tidak mampu mereka hadapi dan tidak mampu mereka pikul" (HR Al-Bukhari no 4712 dan Muslim no 327)
"Pada hari kiamat matahari mendekat ke arah manusia seukuran satu mil, maka (kondisi) manusiapun terhadap keringat mereka (yang bercucuran) berdasarkan amalan mereka. Ada diantara mereka yang air keringatnya hingga dua mata kakinya, ada di antara mereka yang keringatnya hingga ke lututnya, ada yang hingga ke pantatnya, dan ada di antara mereka yang keringatnya hingga ke mulutnya"
Ada 7 golongan yang akan Allah beri nanungan dimana tidak akan ada naungan kecuali naungan yang diberikan oleh Allah, ketika matahari didekatkan dengan kita satu mil. Siapakah golongan tersebut...?
Seorang muslim yang masih muda setidaknya bisa masuk kedalam 6 golongan dari tujuh golongan yang disebutkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam...
Pada hari itu ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan 'arsy Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

"Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungannya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seorang pria yang hatinya terikat dengan masjid-masjid, dua orang pria yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak untuk berzina oleh seorang wanita yang berkedudukan dan cantik namun ia berkata "Sesungguhnya aku takut kepada Allah", seseorang yang bersedekah lalu ia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir mengingat Allah tatkala bersendirian maka kedua matanyapun meneteskan air mata" (HR Muslim no 660)
Dari  hadits ini mari kita perhatikan golongan terakhir yang disebutkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yaitu seseorang yang berdzikir mengingat Allah tatkala bersendirian maka kedua matanyapun meneteskan air mata.
Ibnu Hajr menyebutkan dua penafsiran ulama tentang sabda Nabi خَالِيًا "bersendirian" yang kedua tafsiran tersebut menunjukan keikhlasan,
-Maksudnya ia berdzikir kepada Allah tatkala bersendirian dan jauh dari keramaian sehingga tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ibnu Hajr berkata, "Karena ia dalam kondisi seperti ini lebih jauh dari riyaa" (Fathul Baari 2/147)
-Maksudnya yaitu meskipun ia berdzikir di hadapan orang banyak dan dilihat oleh orang banyak akan tetapi hatinya seakan-akan bersendirian dengan Allah, yaitu hatinya kosong dari memperhatikan manusia, kosong dari memperhatikan pandangan dan penilaian manusia. (Lihat Fathul Baari 2/147). Tentunya hal ini menunjukkan keikhlasan yang sangat tinggi, sehingga meskipun di hadapan orang banyak ia mampu mengatur hatinya dan mengosongkan hatinya dari riyaa'
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).
Jika seperti itu adanya maka mari kita mengingat sejenak pernahkah kita merasa galau menyendiri dari keramaian kemudian merenungi kesalahan dan dosa  yang begitu banyak dan sering kita kerjakan, kemudian tanpa terasa air  mata ini meneteskan air mata karena takut akan adzab dan siksa Allah...........? atau kita hanya menangis karena perkara-perkara dunia, menangis karena dimarahi orang tua, manangis karena diputusin pacar, menangis karena cemburu sang pacar bergandengan dengan orang lain, menangis karena uang jajan kurang.....
Atau mungkin kita tidak pernah menangis, dan dengan bangganya berkata “kalo saya itu orang yang kuat lelaki sejati tak pernah menangis”, ”kalo saya itu wanita yang tegar menghadapi cobaan, menangis karena cinta...? sudah gak jamannya. Diputusin pacar enjoy aja, cinta ditolak golek meneh,
Ma’asyirol muslimin para remaja yang semoga senantiasa dirahmati Allah
Setiap kita tidak mungkin terlepas dari yang namanya kesalahan, baik itu yang kita sengaja maupun yang tidak. Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَعَنْ أَنَسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءُونَ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.  )أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَسَنَدُهُ قَوِيٌّ(
Dari Anas ra berkata, “Rasulullah saw bersabda, “setiap anak adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang selalu bertaubat” (HR at Tirmidzi & Ibnu Majah, sanadnya kuat. Menurut Muhammad Nashirudin Al Albani Hadits ini hasan, shahih at Tirmidzi 2499)
خَطَّاءُونَ jika melihat dari bahasa arab merupakan  (صِيغَةُ مُبَالَغَةٍ) yang maksudnya banyak melakukan kesalahan, jadi manusia itu jika melaksanakan kesalahan gak sedikit dan gak tanggung-tanggung tapi banyak sekali berbuat salah.
Hadits ini menunjukkan bahwa seorang manusia pasti tidak akan terlepas dari kesalahan, karena manusia memiliki tabiat yang lemah & ada kecenderungan untuk tidak mematuhi aturan yang telah diperintahkan Allah serta ada keengganan untuk meninggalkan larangan-Nya.
Akan tetapi atas Rahmat Allah ta’ala, Allah membukakan pintu taubat bagi para hamba dan mengatakan bahwa sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang mau bertaubat dari segala kesalahannya. Hadits ini juga merupakan bukti bahwa apabila seorang hamba melakukan perbuatan maksiat, lantas ia bertaubat, maka Allah pasti akan menerima taubatnya dan demikian seterusnya.
Maka jika seperti itu adanya.......... mengapa kita tidak pernah merasa galau dan menangis karena takut kepada Allah apakah sudah begitu keras dan hitamnya hati kita atau begitu tipisnya iman kita sehingga kita sudah jauh dari agama, sehingga kita tidak bisa menangis lagi....? jika kita begitu mudah merasa galau dan menangis karena perkara dunia maka hendaknya kita waspada jangan-jangan kita sudah jauh dari Allah,
            Sebuah kabar gembira bagi anda yang pernah menangis ketika sendirian berdzikir mengingat Allah takut akan siksa dan adzabNYA. Beruntunglah anda yang senantiasa gembira dan bahagia melangkahkan kaki kemasjid dan  rindu untuk pergi kemasjid shalat berjamaah, berdzikir, berdoa kepada Allah.... beruntunglah seorang pemuda yang sudah mampu dan mau meluangkan, menyisihkan sebagian uang saku atau penghasilannya untuk bersodaqoh dan ikhlas.... beruntunglah kita yang masih muda bisa meraih beberapa katagori dari yang disebutkan oleh Rosulullah,,, maka marilah kita memanfaatkan waktu muda dengan sebaik-baiknya, dengan hal-hal yang bermanfaat,,,, semoga kita bisa masuk kedalam salah satu atau bahkan semua golongan yang telah disebutkanoleh Rosulullah shalallahu alaihi wasalam sehingga semoga kelak kita akan mendapatkan naunganNYA. Amiin.....
Bagi anda yang sering galau tetapi bukan galau karena Allah
Maka sudah saatnya kita berhenti, berfikir jernih, dan menatap masa depan dan senantiasa mengingat bahwa semua yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah
Waktu merupakan nikmat besar yang kebanyakan manusia melalaikannya. Dari Ibnu ‘Abbas c (bahwa Nabi n bersabda):
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia melalaikannya: (1) kesehatan, dan (2) waktu luang.” (HR. Al-Bukhari, 11/196)
Waktu merupakan nikmat besar yang akan ditanyakan di hadapan Allah. Nabi telah bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمَ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ كَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa mudanya untuk apa dia gunakan, (3) tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan (4) untuk apa dia belanjakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2417,
GALAU KARENA PERMASALAHAN (WAJAR)
Jika galau hati ini karena tugas yang menumpuk, masalah keluarga, masalah pendidikan, masalah komunikasi dengan teman, lagi bokek alias kangker kantong kering,,,
Maka amalkanlah sabda nabi احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.
Saudaraku……..Semuanya penyakit galau dan turunannya itu berurat-berakar dalam hati kita. Ya, hatilah muara dan asal dari segala kegalauan, kebingungan, kesediahan, was-was, keresahan, kecemasan, dihatilah penyakit galau itu bersarang. Maka jika kita mempercayai bahwa yang menciptakan hati ini adalah Allah maka memintalah ketenangan mintalah kedamaian mintalah jalan keluar dari berbagai masalah yang kita hadapi hanya kepada Allah. Ada sebuah doa yang yang diajarkan nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  
Dari 'Abdullah bin Mas'ud رضي اَللّهُ عنه, ia mengatakan, ”Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda, 'Tidaklah seorang hamba tertimpa kesusahan atau kesedihan, lalu ia mengucapkan:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku ada-lah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khusus-kan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.
Melainkan Allah akan menghilangkan kesedihannya dan kesusahannya dan menggantikan dengan kegembiraan.” [HR Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Hibban dalam Shahiihnya]
Dan berbagai tips dan resep anti galau bisa temen-temen baca di majalah el fata hal: 40
KESIMPULAN
Futur pada dasarnya merupakan hal yang sangat harus diwaspadai sebab ia dapat menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan membawa bencana yang besar bagi pengidapnya. Namun, ternyata futur tidak selalu membawa bencana. Futur bahkan dapat membuahkan pahala dan hidayah jika ditangani dengan tepat, sesuai dengan petunjuk Rasulullah .
Rasulullah adalah orang yang paling faham dengan segala masalah yang dialami umatnya dan Beliau adalah orang yang paling sayang kepada umatnya. Seluruh problematika umat telah Beliau tunjukkan jalan keluarnya, termasuk futur. Beliau bersabda,
“Setiap amal itu ada masa-masa semangat dan setiap masa-masa semangat ada masa futur. Barangsiapa yang masa futurnya tetap dalam sunnah, maka dia telah mendapat hidayah (beruntung). Namun barangsiapa yang masa futurnya membawa kepada selain sunnah, maka dia telah celaka.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad, 2/158-188, Shahih Al-Jami’ As-Shaghir, no. 2147).
Rasulullah mengabarkan kita dalam hadits tersebut bahwa futur adalah hal yang sangat manusiawi, lumrah, bahkan pasti terjadi dan tak dapat terelakkan. Setiap amal memang memiliki masa semangat, namun setiap masa semangat memiliki masa futur. Artinya, setiap orang yang mengamalkan suatu keta’atan, mau tidak mau, ia pasti mengalami masa futur.  Jika digambarkan, grafik amal berbentuk seperti kurva parabolik dimana pada awalnya ia semakin meninggi, semakin semangat, hingga mencapai puncak kurva, kemudian akan menurun perlahan demi perlahan. Nah, ketika amal mengalami penurunan, manusia muslim terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah mereka yang masa futurnya justru memberikan pahala dan hidayah. Bagaimana bisa demikian? Ternyata, masa futur membawa mereka kepada sunnah, tetap dalam koridor sunnah.
Ketika ia merasa futur dalam melakukan suatu ibadah atau amalan sunnah (futur haram hukumnya dalam ibadah wajib sebab ibadah wajib sekali-kali tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun), ia siasati dengan beralih kepada amalan lain yang juga sunnah. Misalnya, jika ia telah terbiasa membaca Al-Qur`an, kemudian futur melandanya, ia mengganti bacaan Al-Qur`annya dengan amalan sunnah yang lain seperti memperbanyak dzikir atau memperbanyak shalat sunnah. Ketika ia futur dalam melaksanakan shalat malam, ia beralih dengan memperbanyak sedekah. Ketika ia futur dalam melaksanakan puasa sunnah, ia beralih dengan membantu urusan orang lain, dan sebagainya, sampai masa futurnya berlalu sehingga ia bisa kembali melaksanakan amal yang telah menjadi kebiasaannya.
Ia bisa mengimbangi penurunan dalam suatu amalan sunnah dengan melaksanakan amalan sunnah yang lain. Dengan begitu, ia telah mendapatkan pahala, bahkan dengan pahala yang lebih besar sebab kaidah mengatakan, “suatu amalan, semakin terasa berat di hati untuk diamalkan, semakin besar pahalanya”. Masa futur tentu menjadikan beramal apapun terasa lebih berat di hati. Maka pada saat-saat itulah ia mendapatkan pahala ekstra ketika berhasil melaksanakan suatu amal; yaitu pahala mengamalkan amalan tersebut, plus pahala melawan rasa berat di hatinya. Ia adalah orang yang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasan Allah ‘Azza wa Jalla).
Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,”Saat-saat futur bagi seorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang yang masa futurnya lebih membawa ke arah muraqabah (merasa diawasi Allah ‘Azza wa Jalla) dan pembenahan diri, selama tidak meninggalkan amalan fardhu dan tidak melaksanakan yang diharamkan, diharapkan ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus.” (Madarijussalikin, 3/126).
أقول قولي هذا وأستغففر الله لي ولكم....... والحمد لله رب العالمين

0 komentar:

Posting Komentar

Recent Post