ISLAM itu indah-----ISLAM itu sempurna dan ISLAM itu rahmatan lil 'alamin-----JANGAN Hanya menilai ISLAM dari pengikut / umatnya...!-----tapi Nilai lah ISLAM dari ajarannya...!-----Pelajarilah...!-----Jika Tidak Tahu Bertanyalah Pada Ahlinya-----maka anda akan mengetahui betapa menakjubkanya Islam bagi kehidupan manusia

Minggu, 02 November 2014

Kumpulan Nasehat Dari Whatsapp 3

Kisah Cinta Mereka Berakhir di Negeri Wahabi, Di Musim Haji..

Meninggal dunia di negeri yang menerapkan Syari'at Islam, dan disholatkan oleh orang-orang yang memurnikan tauhid merupakan keistimewaan tersendiri bagi sebagian jamaah haji. Rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

 مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ َيمُوْتُ فَيَقُوْمُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُوْنَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُوْنَ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللهُ فَيْهِ

“Tidaklah ada seorang muslim meninggal dunia lalu ada empat puluh orang yang tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah menyolatkan jenazahnya melainkan Allah akan memberikan syafaat kepadanya melalui mereka”. 

[HR Muslim: 948, Abu Dawud: 3170, Ahmad: I/ 277-278 dan al-Baihaqiy. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].

Semoga sepasang kekasih ini termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat seperti hadits di atas.

Mereka berdua adalah pasangan suami-istri, jama'ah haji asal Magelang yang memulai membangun cita-cita untuk pergi haji dengan menabung sejak lama dari hasil panen padi. Salah satu dari mereka bertutur bahwa semenjak zaman pak SBY, harga gabah naik sehingga sangat membantu pelunasan biaya haji. Makanya mereka sangat berterima kasih kepada bapak mantan presiden kita itu. Meskipun sebetulnya mereka mendapat jatah haji pada tahun 2020-an sekian, akan tetapi karena sudah cukup sepuh (Mbah Syakroni sekitar 90an tahun lebih, dan istrinya 80 tahun lebih), maka dimajukan menjadi musim haji tahun ini (1435 H / 2014 M).

Ketika di Asrama Haji Donohudan Solo, sebenarnya mbah Syakroni sudah dalam keadaan sakit dan kurang memungkinkan untuk diberangkatkan ke tanah suci. Namun beliau akhirnya tetap berangkat setelah tertunda beberapa hari untuk beristirahat. Singkat cerita, setelah menjalankan serangkaian manasik haji, ketika di Mina yang mana merupakan bagian akhir dari rangkaian ibadah haji, mbah Syakroni akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, rahimahullah. Info yang kami dapatkan, jenazahnya dishalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di Makkah.

Mbah Istiqamah pun mengatakan sudah remen (rela, ikhlas) kalau suaminya diwafatkan di tanah haram yang mulia ini. Menurut pengakuan dokter yang menangani Mbah Syakroni, beliau memang bukan tipe orang yang suka mengeluh dengan penyakitnya.

Pada suatu sore di maktab (hotel), mbak Imronah, paramedis kloter 66 melayani para jamaah yang mengalami keluhan kesehatan. Percaya atau tidak, datang seseorang yang cukup sepuh yang wajahnya persis mbah Syakroni membawa buku kesehatan jamaah (buku hijau) atas nama Syakroni. Meskipun heran, mbak Imronah tetap mencatat keluhan pasien, dan diberi obat, tak lupa diisikan di daftar pengunjung, nama pasien dan nomor paspor, yang belakangan setelah dicek ternyata berbeda dengan nomor paspor mbah Syakroni, tapi juga tidak terdaftar di SISKOHAT (Sistem Informasi Haji), sehingga tidak diketahui siapa sebenarnya pemilik nomor paspor itu.

Malam harinya di kamar mbah Istiqamah, beliau berkali-kali bangun. Namun setiap bangun beliau berdzikir dan menghafal surat-surat dalam Al Quran. Sampai menjelang subuh barulah beliau tidur. Sedangkan jamaah ibu-ibu lainnya yang satu kamar dengan beliau semua ke Masjidil Haram untuk shalat. Sepulang dari shalat, mbah Istiqamah terlihat tertidur di lantai dengan menghadap kiblat. Tadinya tidak mau dibangunkan, tapi pada akhirnya mereka mencoba membangunkan namun ternyata beliau telah wafat, rahimahallah. Jenazah beliau pun dimandikan, dan dishalatkan di Masjidil Haram.

Begitulah kisah indah suami istri yang sehidup semati. Naik haji bersama, dan meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan dalam keadaan yang insya Allah husnul khatimah, aamiin.
_______________
Madinah, 08 Muharrom 1436 H

Ket. Kisah nyata ini diceritakan oleh sahabat kami, salah satu jamaah asal megelang yang satu kloter dengan mbah syakroni dan mbah istiqomah.

Dinukil: http://ibnuhilmy.blogspot.com/2014/10/di-negeri-tauhid-ku-hembuskan-nafas.html?m=1

0 komentar:

Posting Komentar

Recent Post