Abu Hazim Salamah bin Dinar (أبو حازم سلمة بن دينار), seorang tabi’in yang terkenal sebagai ulama, ahli zuhud, dan pendakwah di Madinah pada abad ke-2 Hijriyah.
Profil Singkat
- Nama lengkap: Abu Hazim Salamah bin Dinar
- Kunyah: Abu Hazim
- Era: Tabi’in (hidup di masa setelah sahabat Nabi)
- Tempat tinggal: Madinah
- Keistimewaan:
- Dikenal sebagai seorang ulama yang zuhud dan wara’ (sangat menjaga diri dari hal-hal syubhat dan duniawi).
- Menyampaikan banyak nasihat yang penuh hikmah kepada para khalifah dan penguasa.
- Sering menolak hadiah dan bantuan dari para penguasa, karena merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
- Guru dari Imam Malik bin Anas dan banyak ulama lainnya.
Sikap terhadap Penguasa
Seperti dalam riwayat yang Anda tanyakan, Abu Hazim menolak untuk mengajukan kebutuhan kepada para khalifah, termasuk dari Bani Umayyah. Dia lebih memilih untuk menggantungkan dirinya kepada Allah saja.
Contoh kisah:
Ketika Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik meminta nasihat darinya, Abu Hazim berkata:
"Wahai Amirul Mukminin, jauhilah dunia karena dunia akan meninggalkanmu, dan carilah akhirat karena engkau pasti akan mendatanginya."
Wafatnya
Abu Hazim wafat sekitar akhir abad ke-2 Hijriyah (sekitar tahun 140 H).
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat istiqamah dalam kesederhanaan dan keikhlasan, sehingga menjadi panutan bagi banyak ulama setelahnya.
Riwayat tentang beliau :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ، ثَنَا زَمْعَةُ بْنُ صَالِحٍ، قَالَ: كَتَبَ بَعْضُ بَنِي أُمَيَّةَ إِلَى أَبِي حَازِمٍ يَعْزِمُ عَلَيْهِ إِلَّا رَفَعَ إِلَيْهِ حَوَائِجَهُ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ: أَمَّا بَعْدُ، جَاءَنِي كِتَابُكَ تَعْزِمُ عَلَيَّ إِلَّا رَفَعْتُ إِلَيْكَ حَوَائِجِي، وَهَيْهَاتَ! رَفَعْتُ حَوَائِجِي إِلَى مَنْ لَا يَخْتَزِنُ الْحَوَائِجَ، وَهُوَ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، فَمَا أَعْطَانِي مِنْهَا قَبِلْتُ، وَمَا أَمْسَكَ عَنِّي قَنِعْتُ.
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Zam’ah bin Shalih, ia berkata:
Salah seorang dari Bani Umayyah menulis surat kepada Abu Hazim, bersikeras memintanya agar mengajukan kebutuhannya kepadanya. Maka Abu Hazim menulis surat balasan kepadanya:
“Amma ba’du, telah sampai kepadaku suratmu yang memaksaku untuk mengajukan kebutuhanku kepadamu. Namun, sungguh mustahil! Aku telah mengajukan kebutuhanku kepada Dzat yang tidak membutuhkan tempat penyimpanan untuk kebutuhan, yaitu Rabbku ‘Azza wa Jalla. Apa yang Dia berikan kepadaku, aku terima, dan apa yang Dia tahan dariku, aku merasa cukup.”
----
حَدَّثَنَا أَبِي رَحِمَهُ اللَّهُ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، وَحَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانٍ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدَةَ، قَالَا: ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، Telah menceritakan kepada kami ayahku—semoga Allah merahmatinya—telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Hasan, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki’, dan telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Ubaidah. Mereka berdua berkata:
قَالَ: كَتَبَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ إِلَى أَبِي حَازِمٍ، وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: كَتَبَ سُلَيْمَانُ إِلَى أَبِي حَازِمٍ: اِرْفَعْ إِلَيَّ حَاجَتَكَ،
Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, ia berkata:
Amirul Mukminin menulis surat kepada Abu Hazim. Ibrahim berkata: “Sulaiman menulis surat kepada Abu Hazim, ‘Sampaikan kepadaku kebutuhanmu.’”
Abu Hazim menjawab:
قَالَ: هَيْهَاتَ! رَفَعْتُ حَاجَتِي إِلَى مَنْ لَا يَخْتَزِنُ الْحَوَائِجَ، فَمَا أَعْطَانِي مِنْهَا قَنِعْتُ، وَمَا أَمْسَكَ عَنِّي مِنْهَا رَضِيتُ.
“Sungguh mustahil! Aku telah mengajukan kebutuhanku kepada Dzat yang tidak membutuhkan tempat penyimpanan untuk kebutuhan. Apa yang Dia berikan kepadaku, aku merasa cukup dengannya, dan apa yang Dia tahan dariku, aku ridha terhadapnya.”
Wallahu a’lam.
0 komentar:
Posting Komentar